Teori Keseimbangan Heider


Teori Keseimbangan berkenaan dengan cara seseorang menata sikap terhadap orang atau benda dalam hubungannya satu sama lain di dalam struktur kognitifnya sendiri.

Heider mengemukakan bahwa keadaan yang tidak seimbang menimbulkan ketegangan dan membangkitkan tekanan-tekanan untuk memulihkan keseimbangan.

Dia mengatakan bahwa konsep keadaan seimbang menunjukkan sebuah situasi yang didalamnya unit-unit yang ada dan sentimen-sentimen yang dialami “hidup” berdampingan tanpa tekanan-tekanan.


Paradigma Heider berfokus pada dua individu, seseorang (P), objek analisis dan beberapa orang lain (O) dan objek fisik, gagasan atau peristiwa (X).

Fokus Heider adalah pada bagaimana hubungan diantara ketiga entitas ini diorganisasikan dalam benak seseorang (P).

Heider membedakan 2 jenis hubungan diantara ketiga entitas ini, hubungan kesukaan (L) dan hubungan Unit 

(U)penyebab, kepemilikan, kesamaan dan sebagainya.

Dalam paradigma Heider, “keadaan seimbang hadir apabila hubungan ketiganya positif dalam segala hal atau apabila dua negatif dan satu positif. Semua kombinasi lain adalah tidak seimbang.


Contoh : 

si A tergabung dalam suatu kelompok belajar. Karena ia merasa kalau ia adalah bagian dari kelompok itu, maka ia akan mencari informasi dari teman sekelompoknya ataupun bergabung untuk men-share informasi untuk menciptakan keseimbangan komunikasi di dalam kelompok tersebut.


Teori A-B-X Newcomb


Teori daya tarik antarindividu daripada teori perubahan sikap apabila kita gagal mencapai simetri melalui komunikasi dengan orang lain tentang sebuah objek yang penting bagi kita, maka kita kemudian dapat mengubah sikap kita baik terhadap orang itu maupun pada objek yang diperbincangkan guna menciptakan simetri.


Karena model Newcomb berhubungan dengan 2 orang dan komunikasi diantara mereka, dia memberi label A dan B (bukan P dan O) dan tetap memberi label X, sama dengan Heider untuk mempresentasikan objek sikap mereka.

Heider mengasumsikan kebutuhan manusia atas konsistensi yang dia sebut dengan sebuah “ketegangan konstan terhadap simetri”. Apabila akan tergantung pada intensitas sikap A terhadap X dan daya tarik A bagi B. 

 

Meningkatnya daya tarik A bagi B dan meningkatnya intensitas sikap A terhadapa X akan mengakibatkan (1) peningkatan ketegangan terhadap simetri sikap A terhadap B atas sikap mereka terhadap X, (2) Kemungkinan bahwa simetri akan tercapai; (3) kemungkinan sebuah komunikasi antara A dan B tentang X.

Newcomb berbeda dengan Heider, menekankan komunikasi. Semakin tidak simetri antara A dan B terhadap X, maka semakin besar kemungkinan A akan berkomunikasi dengan B tentang X. Simetri memprediksikan bahwa manusia berasosiasi atau menjadi teman bagi manusia lain yang berpendapat sama.


Agar terjadi perubahan sikap, seseorang harus berhubungan dengan informasi yang berbeda dengan sikapnya saat ini. Teori simetri Newcomb memprediksikan bahwa semakin A tertarik pada B (seseorang atau sebuah kelompok), maka semakin besar perubahan opini pada pihak A terhadap posisi B. 


Contoh :

A dan B saling menyukai, A sangat cuek terhadap penampilan sedangkan B sangat memperhatikan penampilan (X). 

Dari contoh tersebut dapat disimpulkan sikap A terhadap B dan terhadap X saling bergantungan.


Teori Perbandingan Sosial, Festinger


Leon Festinger membedakan antara kenyataan fisik dengan kenyataan sosial. Apabila pendapat, sikap dan keyakinan kita dapat diukur secara fisik, mungkin dengan menimbang sesuatu atau mengukur panjang lebar atau tinggi itu berarti kita berhubungan dengan kenyataan fisik, sehingga mungkin kita tidak perlu lagi saling berkomunikasi. Akan tetapi bila pendapat, sikap serta kyakinan kita tidak didasarkan pada kejadian yang mudah diukur, dan kalau dapat ditemukan bukti-bukti yang mendukung atau mungkin membantah pendapat, sikap serta keyakinan tersebut, maka kita berhadapan dengan kenyataan sosial dan ini dapat diukur secara baik dengan berkomunikasi dengan orang lainyang kita anggap penting bagi kita, jadi komunikasi kelompok acapkali timbul karena adanya kebutuhan individu-individu untuk membandingkan pendapat, sikap, keyakinan, dan kemampuan mereka sendiri dengan orang lain.

Menurut pendapat Festinger, dorongan yang kita rasakan untuk berkomunikasi tentang suatu kejadian dengan anggota laindalam kelompok akan meningkat bila kita menyadari bahwa kita tidak setuju dengan suatu kejadian, apabila kejadian itu makin menjadi penting dan apabila sifat ketertarikan kelompok juga meningkat. Teori perbandingan sosial adalah proses saling mempengaruhi dan perilaku saling bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain. 


Ada dua hal yang diperbandingkan dalam hubungan ini, yaitu:

a. Pendapat (opinion)

b. Kemampuan (ability)

Perubahan pendapat relatif lebih mudah terjadi daripada perubahan kemampuan.

1. Dorongan untuk menilai pendapat dan kemampuan

Festinger mempunyai hipotesis bahwa setiap orang mempunyai dorongan (drive) untuk menilai pendapat dan kemampuannya sendiri dengan cara membandingkannya dengan pendapat dan kemampuan orang lain. Dengan cara itulah orang bisa mengetahui bahwa pendapatnya benar atau tidak dan seberapa jauh kemampuan yang dimilikinya (Sarwono, 2004).

Festinger juga memperingatkan bahwa dalam menilai kemampuan, ada dua macam situasi, yaitu: Pertama, kemampuan orang dinilai berdasarkan ukuran yang obyektif, misalnya kemampuan mengangkat barbel. Kedua, kemampuan dinilai berdasarkan pendapat. Misalnya, untuk menilai kemampuan pelukis berdasarkan pendapat orang lain.

2. Sumber-sumber penilaian

Orang akan mengagungkan ukuran-ukuran yang obyektif sebagai dasar penilaian selama ada kemungkinan melakukan itu. Namun, jika tidak, maka orang akan menggunakan pendapat atau kemampuan orang lain sebagai ukuran.

3. Memilih orang untuk membandingkan

Dalam membuat perbandingan dengan orang lain, setiap orang mempunyai banyak pilihan. Namun, setiap orang cenderung memilih orang sebaya atau rekan sendiri untuk dijadikan perbandingan.


Contoh :

tinggi pendek, kurus gemuk dll seseorang mungkin bisa diukur dari tampilan luar. Akan tetapi sifat seseorang bisa diukur secara baik dengan cara melakukan komunikasi dengan orang tersebut.


-Fisik seseorang bisa diukur dari mata kita

-Sifat seseorang tidak bisa kita ukur dari fisik yang terlihat.



Teori Sosiometris, Moreno


Sosiometris dapat diartikan sebagai pendekatan metodologis terhadap kelompok-kelompok yang diciptakan mula-mula oleh Moreno dan kemudian dikembangbangkan oleh Jennings dan oleh yang lainnya. Pada dasarnya teori ini berhubungan dengan “daya tarik” (attraction) dan “penolakan” (repulsions)yang dirasakan oleh individu-individu terhadap satu sama lain serta implikasi perasaan-perasaan ini bagi pembentukan dan struktur kelompok.

Meskipun sosiometris tidak langsung berke[entingan dengan komunikasi, struktur sosiometris dari suatu kelompok tidak dapat disangkal berhubungan dengan beberapa hal yang terjadi dalam komunikasi kelompok. Cukup masuk akal untuk menganggap bahwa individu yang merasa tertarik satu sama lain dan yang saling menempatkan diri pada peringkat yang tinggi akan lebih suka berkomunikasi sedemikian rupa sehingga membedakan mereka dari berkomunikasi anggota-anggota kelompok yang saling membenci. 


Contoh :

Karena memiliki kesamaan selera dan minat, maka beberapa orang memutuskan untuk membuat suatu kelompok ataupun perkumpulan. Sebaliknya, jika tidak memiliki kesamaan, maka orang akan menolak untuk membuat kelompok.